Europe Football Fans Club Gresik menyatukan pendukung klub-klub Eropa. Interisti, Milanisti, hingga United Fans duduk bersama. (Dok. Europe Football Fans Club Gresik)
JawaPos.com – Rivalitas klub sepak bola Eropa sudah menjadi kultur dan budaya. Di Italia, misalnya, persaingan Inter Milan dan AC Milan hampir selalu berlangsung panas. Begitu pula di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Bahkan, di luar lapangan, para pendukung klub juga kerap berseteru.
Namun, atmosfer seperti itu sama sekali tidak terlihat di Europe Football Fans Club (EFFC) Gresik. Komunitas tersebut merupakan gabungan fans klub-klub sepak bola Eropa di Kota Pudak.
“Di EFFC, tidak ada yang namanya rivalitas. Yang ada hanya persahabatan dan persaudaraan,” kata Ketua EFFC Gresik Deny Ardiansyah.
Di komunitas itu, Interisti (sebutan fans Inter), Milanisti (Milan), hingga Romanisti (Roma) bisa duduk bersama dan bercanda. United Fans (supporter Manchester United) dan Cityzens (Manchester City) pun saling mendukung dalam berbagai hal.
“Rivalitas bagi kami hanya 90 menit pertandingan dari layar kaca. Selebihnya keluarga,” tambahnya.
EFFC Gresik berdiri sejak 2015. Namun, kata Deny, komunitas itu sempat vakum pada 2019. “Baru 2023 kami memutuskan berkumpul lagi,” tuturnya.
Baca Juga: Seraf Naro Sumbang Medali Pertama Indonesia di Asian Games 2026 Menambah Saudara
Misi EFFC Gresik sebenarnya sederhana: menambah saudara. Di Gresik, jumlah komunitas fans klub Eropa masih terbatas.
“Dengan berkumpul, jadi ramai dan menyenangkan. Bisa melakukan banyak kegiatan bersama,” ungkapnya.
Selain nonton bareng, EFFC Gresik rutin menggelar beragam kegiatan. Mulai fun football, berbagi dengan sesama, hingga kegiatan keagamaan.
“Kami juga sempat membuat turnamen antar-komunitas klub sepak bola di Gresik. Selain itu, sempat ikut turnamen mewakili Gresik di Surabaya,” jelas pria 37 tahun tersebut.
Satukan 12 Komunitas Saat ini, setidaknya ada 12 komunitas pendukung klub Eropa yang tergabung di EFFC Gresik. Mereka merupakan fans tim-tim asal Italia, Inggris, hingga Spanyol. “Yang paling seru tentu saat pertandingan seperti Liga Champions. Saat tim-tim kami saling berhadapan. Jadi ramai nobarnya,” ujarnya. Pilih Lokasi Nobar yang Banyak Anak Mudanya DENY dan kawan-kawan terus mencari cara untuk merekrut anggota baru. Salah satunya menentukan lokasi yang pas buat berkumpul dan nobar. “Kami memilih lokasi yang banyak anak mudanya. Yang mungkin selama ini malu nobar, bisa langsung join dan kenalan,” ujarnya. Selain itu, beragam kegiatan positif diharapkan bisa menarik minat anak muda. Dia berharap kecintaan anggota EFFC Gresik terhadap klub masing-masing terus ditularkan. Upaya itu dilakukan karena komunitas yang berdiri sejak 2015 tersebut mulai kesulitan melakukan regenerasi. “Karena selama beberapa tahun, kami kesulitan mencari anggota baru,” katanya. Menurut Deny, gen Z kurang tertarik bergabung dengan komunitas fans klub sepak bola Eropa. Mereka lebih tertarik dengan aktivitas lain yang lebih kekinian. “Berbeda dengan sebelum gen Z. Kami masih berkumpul, nobar, dan sangat bersemangat jika ngobrol tentang sepak bola Eropa,” ungkapnya. Baca Juga:
Srikandi Bulu Tangkis Indonesia Bantai Mongolia 3-0, Lolos ke Perempat Final Asian Games 2026
Deny pun memprediksi jumlah 12 komunitas fans klub Eropa yang tergabung di EFFC Gresik bisa berkurang. Beberapa komunitas serupa di Gresik juga sudah vakum. “Karena tidak ada regenerasi. Yang tua-tua juga sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarga,” jelasnya. Meski begitu, pria yang juga Interisti tersebut tetap berusaha menjaga keberlangsungan komunitas. “Yang terpenting bagi kami sebenarnya mencari saudara baru yang mau bergabung,” katanya.
Original Source: JawaPos.com











